Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2017

Melakukan Shalat Sunnah Ketika Ada Khotib Sedang Khutbah, Bolehkah?

Melakukan Shalat Sunnah Ketika Ada Khotib Sedang Khutbah, Bolehkah?
Melakukan Shalat Sunnah Ketika Ada Khotib Sedang Khutbah, Bolehkah?

Di antara shalat yang disunnahkan ialah tahiyatul masjid, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid sebelum duduk. Menurut Imam al-Nawawi, kesunnahan shalat ini sudah disepakati oleh mayoritas ulama (ijma’) dan makruh meninggalkannya kecuali ada udzhur . Kesunnahan mengerjakan shalat ini didasarkan pada hadis riwayat Abu Qatadah, Rasulullah SAW berkata:

Artinya:
“Apabila kalian masuk masjid hendaklah shalat dua raka’at sebelum duduk” (HR: Ibnu Majah)
  
Hadis ini menunjukan secara jelas anjuran shalat tahiyatul masjid. Namun persoalannya, pada saat shalat jum’at, khususnya setelah khatib naik mimbar,  sebagian orang seringkali merasa bingung untuk menentukan pilihan: apakah mengerjakan shalat sunnah atau langsung duduk demi mendapatkan kesunnahan menyimak khutbah.

Persoalan ini pernah melanda seorang sahabat pada masa Rasulullah. Kebetulan pada waktu itu Rasulullah SAW bertindak sebagai khatib jum’at.

Dikarenakan datang terlambat, demi menyimak khutbah keagamaan, sahabat tadi langsung duduk dan tidak shalat tahiyatul masjid. Rasul pun akhirnya menegurnya. Beliau berkata:

Artinya:
“Shalatlah kamu dua rakaat dengan ringkas (cepat) sebelum duduk” (HR: Ibn Hibban)
  
Rasulullah SAW tetap memerintahkan shalat dua raka’at sekalipun khutbah jum’at sedang berlangsung. Ini menunjukan saking sunnah dan utamanya shalat tahiyatul masjid.

Khusus bagi orang yang terlambat, dianjurkan mempercepat shalatnya agar dapat mendengar khutbah jum’at. Berdasarkan hadis ini, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mengatakan:

“Apabila seorang masuk masjid dan khatib sedang khutbah jum’at, hendaklah ia shalat tahiyatul masjid terlebih dahulu dan mempercepatnya”

Baca Juga : INILAH KEBANGKITAN ISLAM, Relawan Agus-Sylvi Deklarasikan Dukungan ke Anies-Sandi
  
Dengan demikian, bagi orang yang terlambat datang ke masjid pada hari jum’at, sementara khatib sudah naik mimbar, kesunnahan shalat tahiyatul masjid tetap berlaku. Namun perlu digarisbawahi, kesunnahan ini tidak berlaku pada saat shalat berjemaah, ketika imam sudah takbir ataupun muadzzin sudah iqamah. Pada kondisi ini, dimakruhkan melakukan shalat sunnah dan lebih baik langsung shalat berjemaah bersama imam. Wallahu a’lam.

Sumber : http://www.wajibbaca.com/

Bukan hanya di Arab, Ternyata Negara Ini Lahirkan Ulama-Ulama Hebat. Sebarkanlah!!

Bukan hanya di Arab, Ternyata Negara Ini Lahirkan Ulama-Ulama Hebat. Sebarkanlah!!

Islam mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Uzbekistan. Sebagian besar penduduknya menganut risalah yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW itu.

Menurut Departemen Luar Negeri AS, pada 2009 jumlah Muslim di negeri ini diperkirakan 90 persen dari penduduk dan sisanya menganut Kristen Ortodoks.

Namun, laporan Pew Research Center 2009 menyatakan bahwa jumlah penduduk Muslim Uzbekistan adalah 96,3 persen dari keseluruhan populasi. Diperkirakan terdapat 93 ribu Yahudi di negara tersebut.

Islam masuk ke Uzbekistan pada abad ke-8 ketika orang-orang Arab memasuki Asia Tengah. Islam awalnya masuk ke bagian selatan Turkestan dan secara bertahap menyebar ke utara.

Uzbekistan merupakan salah satu negara yang dilewati oleh jalur sutra perdagangan pada masa lampau. Jalur Sutra melewati empat kota tua besar di Uzbekistan yaitu Kiva, Tashkent, Bukhara, dan Samarkand.

Tetapi tahukan Anda, jika Uzbekistan ternyata adalah negara yang melahirkan ulama-ulama terkenal. Salah satunya  ulama hadis terkenal Imam Bukhari yang berasal dari kota Bukhara.

Cendekiawan Muslim lainnya yang juga berasal  dari Uzbekistan yaitu  Imam at-Tirmidzi dan Abu Manshur al-Maturidi yang merupakan salah satu pelopor  ulama fikih dan teologi Islam.

Baca Juga : Adik Iparnya Tersangkut Kasus Suap, Ini Kata Jokowi. Sebarkanlah!!!

Di Samarkand, terjadi perkembangan ilmu di dunia Muslim. Karya Ali Qushji (w 1474 M), yang bekerja di Samarkand dan kemudian Istanbul, dipandang sebagai contoh akhir dari inovasi dalam teori astronomi Islam dan diyakini menjadi inspirasi Nicolaus Copernicus karena argumen yang sama tentang rotasi bumi.

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/17/02/09/ol32wf320-bukan-di-jazirah-arab-negara-ini-lahirkan-ulamaulama-hebat